Click here for Myspace Layouts

Selasa, 27 Maret 2012

Biografi Rahman Arge

Rahman Arge atau Abdul Rahman Gega, lahir tanggal 17 Juli 1935 di Makassar, Sulawesi Selatan. Rahman Arge (RA) pernah mendeklarasikan prinsip hidupnya; menggelinding tanpa banyak cincong. Prinsip hidup tersebut, RA, terus berada dalam pusaran kreativitas. Hingga menjelang usianya yang kurang lebih tujuh puluh, ia masih selalu berkata; Aktor jangan sampai kehilangan panggung. Oleh sebab itu jangan berhenti berkarya.
Rahman Arge mengaku bersekolah di SMA Wartawan “Amanna Gappa College” selama dua tahun, kemudian studi di Akademi Seni Drama Indonesia (ASDI) sejak 1959 hingga 1961 di Makassar. Rahman Arge tidak pernah melawan orang tua walau RA dilarang terjung ke dunia seni, terbukti setelah orang tua tau kalau Rahman Arge sekolah wartawan. Orang tua RA tidak menyuruhnya berhenti sekolah. Pekerjaan orang tua RA merupakan karyawan dalam perusahan belanda.   waktu itu kesnian Makassar tidak seperti kesenian yang lahir di Jawa yang sangat pesat.
Karirnya di kesenian berawal dari menekuni seni lukis, namun sejak 1955 RA kemudian tertarik pada bidang sastra dan drama. Saat berusia dua puluh tahun itulah, RA aktif menulis cerpen, naskah drama, puisi, dan essai. Dalam berkesenian saya memkai filosofi paancasila, dalam proses berkesenian tidak ada kata selesai, tapi apa yang dicapai sekarang ini belum sampai disini tapi perjalanan kesenian RA masih mengalir sampai sekarang. Aktivitasnya ditambah lagi dengan menjadi sutradara drama yang berkali-kali menampilkan diri dan karyanya di Taman Ismail Marsuki.
Rahman Arge terdorong untuk mengembangkan dunia  kesenian yang ada di Makassar. RA sadar kalau seni itu tidak ada puncaknya karena prosesnya mengalir, terbukti RA mendirikan Front Sinema Makassar pada tahun 1957, dan teater Makassar tahun 1969. Grup ini dimaksudkan sebagai liga bagi teaterawan Sulawesi Selatan yang siap tampil diberbagai event baik nasional maupun internasional. Haarapan tersebut terus terjaga hingga kini.
Karya-karya tulis RA berupa esai, naskah drama, kritik film, cerpen, dan puisi, dimuat diberbagai media majalah atau koran. Puisi-puisi yang pernah dimuat di Majalah sastra Horizon, Jakarta, Budaya Jaya, Basis, Tempo dan Gatra. Yaang lainnya dimuat di koran Kompas, Indonesia Raya, Harian Kami, Sinar Harapan, Suara Karya, Berita Yudha, dan sampai sekarang masih eksis esainya dimuak di Koran Fajar, salah satu karyanya yang berjudul “ Saya Dipaksa Masuk Rumah Sakit; Sudah Matikah Saya....?” yang membuat orang-orang mengiranya sudah meninggal.
Cerpennya yang terkenal adalah; Langkah-Langkah Dalam Gerimis. Pernah di film layar lebarkan dengan judul Jangan Renggut Cintaku. Cerita ini mengisahkan konflik antara tumasi dan pelarian dalam cerita seorang laki-laki yang balas dendam yang membawa adenya (Silarian). Karya dramanya yang sering dimainka adalah : Sang Mandor, Pembenci Matahari, dan Kenduri. Naskah dramanya yang lain adalah I Tolok, Opa, Somba Opu, Mereka Mulai Menyerang, Sang Direktur, dan lainnya. Selain menulis, RA kerap menterjemahkan karya sastra dunia. Diantaranya karya-karya Gui de Maupasant, Maxim Gorky dan William  Sarojan.
Sebagai teaterawan, mendapat hadiah seni dari pemerintah Republik Indonesia tahun 1977. Di bidang film RA meneriam penghargaan Piala Citra sebagai aktor pemeran pembantu terbaik, dalam Festival Film Indonesia (FFI) tahun 1990. Sebelumnya pernah meraih medali emas pemeeran pembantu terbaik pada FFI 1988. Prestasi itu ikut menunjang penunjukannya sebagai Ketua Persatuan Artis Film Indonesia (Parfi) cabang Sulawesi Selatan 1989-1993.
Penghargaan yang pernah didapatkan Rahma Arge
-          Turut berbicara dalam ekspresi kesenian.
-          Mendapatkan anugrah dari mentri dan PWI pusat “ Pers Penegak Pancasila” atas jasanya melawan pers PKI.
-          Menerima penghargaan kesetiaan selama 50 tahun mengabdi di dunia pers Indonesia
-          Piala Citra dan piala khusus atas jasanya membina teater di Sulsel
-          Memperoleh satya lencana kebudayaan dari presiden RI
-          Mendapatkan penghargaan dari Japan Foundation
 The Japan Fondation pernah mengundang RA, mengunjungi negeri matahari terbit itu pada tahun 1981. Undangan tersebut diperoleh RA, setelah ia menulis puluhan kritik tentang film Jepan pilihan. Kunjungan luar negeri lainnya dalah ke Philipina dalam rangka mengikuti Festifal Film se-ASEAN.
Sisi lain hidupnya adalah sebagai insan pers. RA pernah menjadi ketua PWI Sulawesi Selatan selama 24 tahun (Tiga Priode) . Bersama teman-temannya ia dinilai gigih melawan pers PKI dimasa Orde Lama. Perjuangan itulah yang mengakibatkan RA dianugrahi penghargaan sebagai penegak Pers Pancasila oleh PWI Pusat.
Perjuangannya dibidang kebudayaan adalah menandatangani Menifes kebudayaan di Jakarta pada tahun 1964. Di Makassar bersama teman-temannya ikut mendirikan Dewan Kesenian Makassar dan menjadi ketua selama priode 1970-1979. Di Badan Koordinasi Kesenian Nasional Indonesia (BKKNI) cabang Sulawesi Selatan, RA menjadi ketua di tahun 1978-1992.
Dibidang politik, RA melalui jalur partai Golkar menjadi anggota DPRD Sulawesi Selatan selama tiga priode. Kemudian tahun 1992-1997 menjadi anggota DPR- MPR-RI.
Buku-bukunya yang pernah terbit antara lain; Ulat Bosnia, Jalan Tiga Orang, Antologi Puisi Ombak Makassar, Antologi Lima Drama pilihan.
     RA sudah berada di puncak terutama di Makassar, karena semua sudah dilaluinya. RA bangga berada di tengah-tengah para pelaku seni. Pengaruh terhadap perkembangan teater RA merasa masih mengalir sampai sekarang. Warnah kesukaan RA adalah Hitam. Karena hitam merupakan lambang ketegasan. Warnah lain akan tertutup dengan warnah hitam. Hobi RA adalah menyanyi, dan sempat memiliki Band yang disukai.
Menurut Rahman Arge
-          Keindahan adalah suatu expresi yang manusia menggetarkan jiwa.
-          Kegelisahan adalah manusia diciptakan dalam kegelisahan dan kedamaian dari kegelisahan faktor jiwa yang mendorong manusia tidak puas dengan apa yang dimilikinya, dari situlah manusia akan menciptakan karya.
-          Kemarahan adalah prilaku yang memacetkan karya-karya keindahan.
-          Kesepian adalah koodrat manusia yang melahirkan pemberontakan diri (identitas).
-          Kematian adalah pemahkotaan hidup ( mate disantangi)
Menurut RA setiap karya pasti ada pesannya, mudah tidaknya akan diterima tergantung pada kesamaan konsep antara pengaran dan pembaca. RA percaya bahwa seni pertunjukan di indonesia akan tetap hidup, kalau ada kemampuan mengkombinasikan antara pertunjukan tradisional dan modern. Suatu konsep seni yang menatap dirinya sendiri. Di dalam berkesenian masalah anggaran dapat ditaklukkan dengan manajeman yang bertolak dari pepatah bugis “ cedde e mappagenne’ “ (yang sedikit mencukupkan).
Pandangan RA terhadap pemerintah belum cukup berperan dalam dunia kesenian. Belum tertata sebuah konsep pembeinaan seni pertunjukan ini. Masih jauh dari cukup. Dibutuhkan kerja sama pemerintah dan lembaga seni masyarakat. Diperlukan kesungguhan anatara komponen-komponen pendukung Seni pertunjukan pemerintah dan masyarakat seni dan penyandan dana.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar